Sossor Manurung: Jejak Sakral Maradika Mamuju Menyucikan Pusaka Leluhur

Opini265 Dilihat

Hijauhitam.com – OPINI – Sabtu pagi, 25 Oktober 2025, langit Mamuju tampak teduh seolah ikut menyambut perhelatan sakral yang hanya digelar sekali setahun.

Di Sapo Kayyang, rumah adat kebanggaan masyarakat Mamuju, aroma dupa dan irama tabuhan gendang mengiringi langkah para Galaqgar Pitu pemangku adat menuju pusat ritual Sossor Manurung, upacara penyucian keris pusaka kerajaan Mamuju.

Ritual ini bukan sekadar pencucian benda pusaka. Di balik kilau air dan keris bersejarah itu, tersimpan makna mendalam tentang hubungan manusia dengan leluhurnya, tentang keberlanjutan dan keberkahan hidup. Manurung, yang juga dikenal dengan gelar Maradika Tammakana-Kana (raja yang tak bertutur), merupakan simbol kesucian, kerendahan hati, dan kebijaksanaan seorang pemimpin.

Dalam upacara ini, Maradika Mamuju hadir lengkap bersama tujuh pemangku adat Galaqgar Pitu, masing-masing dengan peran penting dalam menjaga keutuhan adat dan nilai-nilai kerajaan. Gerak mereka terukur, hening mereka bermakna. Di hadapan pusaka kerajaan, doa dan mantra dipanjatkan, memohon keberkahan untuk rakyat Mamuju.

Menariknya, setiap ritual Sossor Manurung selalu dihadiri oleh perwakilan Kerajaan Badung dari Bali. Kehadiran mereka menjadi simbol persaudaraan sejarah antara dua kerajaan yang dahulu terhubung dalam jaringan diplomasi dan budaya serta kekerabatan. Sebuah pertemuan lintas waktu yang menegaskan bahwa warisan leluhur masih hidup dalam denyut kehidupan modern.

Usai ritual inti, suasana berubah menjadi lebih meriah. Tari-tarian tradisional ditampilkan, menggambarkan kegembiraan dan rasa syukur masyarakat. Di akhir acara, air cucian keris pusaka dibagikan. Air ini diyakini membawa berkah bagi petani dan nelayan, mengakhiri masa paceklik, serta membuka pintu rezeki bagi masyarakat Mamuju.

Di tengah dunia yang terus berubah, Sossor Manurung menjadi pengingat bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan sumber identitas dan kekuatan masa depan. Di setiap tetes air suci yang mengalir dari pusaka kerajaan itu, tersimpan doa agar Mamuju senantiasa makmur di bawah lindungan leluhur.

Mamuju,25 Oktober 2025.

Adhi Riadi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed