Hijauhitam.com – MAMUJU – Pagi itu, di halaman depan gedung pemerintahan provinsi di Mamuju, angin membawa suara spanduk berwarna terang. “Tata Kelola Transparan! Pelabuhan Tertib! Aspirasiku Suara Rakyat!” terpampang besar, menandai kehadiran ratusan mahasiswa yang berkumpul, penuh harapan dan tuntutan.
Mereka adalah generasi muda dari HMI Cabang Manakarra, yang pada saat itu secara resmi melayangkan kritik terbuka kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Dalam pernyataan sikapnya, mereka menuntut agar pelabuhan umum di Kabupaten Mamuju Tengah segera ditertibkan, serta menyerukan lima tuntutan lainnya terkait tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.
Di antara riuh orasi dan lonceng protes, ada nada kekhawatiran: kekhawatiran bahwa janji-janji pembangunan bisa berubah bisikan. “Jika pelabuhan itu tetap jadi sandungan, artinya bukan hanya ganti cat bangunan – tapi kita gagal membenahi sistem,” ujar salah seorang mahasiswa saat menyampaikan mikrofon ke podium.
Mereka membawa delapan spanduk yang mencerminkan delapan tuntutan. Beberapa tuntutannya: “Stop permainan proyek!”, “Kami butuh tindakan bukan sekadar laporan!”, dan “Aksi nyata untuk rakyat Sulbar!”
Di balik kerumunan itu, berdiri sosok muda yang sejak lama menaruh harapan pada pemerintahannya sendiri. Bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai agen perubahan. Dia melihat bagaimana pelabuhan umum yang seharusnya menjadi pintu gerbang ekonomi bagi masyarakat malah menjadi sumber kegelisahan—karena tata kelolanya dianggap tak kunjung menentu.
Pemerintah provinsi pun tak sepenuhnya tak merespon. Namun, menurut HMI Manakarra, respons itu belum cukup: belum cukup cepat, belum cukup terang, belum cukup mengubah. Dan mahasiswa pun memilih suara lantang karena mereka merasa opsi menunggu saja sudah tak cukup.
Ketika massa membubarkan diri sore itu, angin tetap berhembus — tapi gaung tuntutan itu belum sepenuhnya reda. Karena di balik aksi hari itu, ada pesan kuat: bukan sekadar mengkritik, tapi mengajak semua pihak — pemerintah, masyarakat, mahasiswa — untuk berjalan bersama. Agar bukan hanya pembangunan fisik yang tampak, tetapi juga pembangunan kepercayaan. (RM)


