HMI Cabang Manakarra Tolak Gelar Pahlawan untuk Soeharto: Bangsa Besar Tak Boleh Lupa Luka Sejarah

Mahasiswa280 Dilihat

Hijauhitam.com — MAMUJU —Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manakarra dengan tegas menolak wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto. Penolakan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi oleh Sekretaris Umum HMI Cabang Manakarra, Masril, sebagai bentuk sikap moral dan intelektual generasi muda terhadap sejarah bangsa.

Masril menegaskan bahwa sikap HMI tidak didasari kebencian personal, melainkan berangkat dari rekam jejak sejarah dan fakta objektif yang tak dapat dihapus oleh waktu.

“Kami menolak upaya memutihkan sejarah kelam bangsa. Pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto justru melukai nurani korban pelanggaran HAM dan semangat reformasi yang diperjuangkan rakyat,” tegas Masril dalam pernyataannya.

Menurut HMI Manakarra, masa pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto sarat dengan pelanggaran hak asasi manusia, pembungkaman kebebasan berpendapat, dan tindakan represif terhadap mahasiswa, jurnalis, serta tokoh-tokoh kritis.

Tragedi 1965–1966 disebut menjadi salah satu noda terbesar yang menewaskan ratusan ribu orang tanpa proses hukum yang adil. Selain itu, era tersebut juga dikenal dengan suburnya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang memperkaya keluarga dan kroni kekuasaan.

“Pembangunan fisik dan stabilitas ekonomi yang sering dibanggakan pada masa Orde Baru justru dibayar mahal dengan hilangnya demokrasi dan kebebasan rakyat,” tambahnya.

HMI menilai, gelar Pahlawan Nasional seharusnya hanya diberikan kepada tokoh-tokoh yang menegakkan nilai kemanusiaan, kejujuran, dan keadilan tanpa cela besar dalam perjalanan hidupnya.

Dalam konteks itu, kata Masril, Soeharto belum layak menyandang gelar pahlawan mengingat banyaknya luka sejarah yang belum disembuhkan, terutama bagi korban pelanggaran HAM dan ketimpangan ekonomi akibat sistem yang diwariskannya.

“Menghormati jasa seseorang bukan berarti menutup mata terhadap kesalahannya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menghadapi sejarah dengan jujur, bukan yang memutihkannya demi kepentingan politik,” tutupnya.

Dengan pernyataan ini, HMI Cabang Manakarra menyerukan kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia agar menolak pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan terus menjaga kesadaran kolektif terhadap sejarah bangsa(RM)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *