Sumpah Pemuda yang Belum Selesai: Membaca Ulang Nasionalisme Lewat Kacamata Tan Malaka

Opini344 Dilihat

Hijauhitam.com – Opini – SETIAP 28 Oktober, kita kembali mendengar gema Sumpah Pemuda, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Pidato demi pidato bergema, bendera dikibarkan, dan nasionalisme kembali dirayakan. Namun di tengah gegap gempita itu, adakah ruang untuk bertanya apakah semangat Sumpah Pemuda masih hidup dalam kenyataan sosial kita hari ini? Atau jangan-jangan ia telah menjelma jadi sekadar seremoni tahunan yang kehilangan daya gigitnya?

Jika Tan Malaka masih hidup hari ini, mungkin ia akan mengernyitkan dahi. Bagi tokoh revolusioner yang menulis Madilog dan Menuju Republik Indonesia itu, nasionalisme bukan soal simbol, bahasa, atau upacara, melainkan soal pembebasan manusia dari penindasan.

Nasionalisme sejati, bagi Tan, adalah kesadaran kelas, kesadaran bahwa bangsa tidak bisa merdeka bila rakyatnya masih lapar, terpinggirkan, dan terbelenggu dalam sistem ekonomi yang timpang.

Sumpah yang lahir dari elite, bukan dari rakyat.

Sumpah Pemuda 1928 tentu monumental. Ia menandai momen lahirnya identitas “Indonesia” yang melampaui batas etnis dan daerah. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang Tan Malaka, semangat itu masih berhenti di tingkat nasionalisme elitis, lahir dari kalangan terdidik kota, jauh dari denyut nadi rakyat jelata.

Bagi Tan, kebangsaan tanpa basis ekonomi rakyat hanyalah “bangunan di atas pasir”. Ia pernah menulis bahwa kemerdekaan sejati tak bisa dicapai lewat seruan moral atau pidato indah, tetapi lewat perjuangan massa yang sadar akan nasib dan haknya. Maka, jika Tan Malaka menulis “otokritik” terhadap Sumpah Pemuda, ia mungkin berkata: “Kalian bersumpah satu bangsa, tetapi bangsa siapa yang kalian maksud? Apakah buruh dan tani ikut bersuara di sana?”

Bahasa Persatuan, Tapi untuk Siapa?

Bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan langkah yang cerdas dan visioner. Namun Tan Malaka mungkin bertanya lebih jauh: apakah bahasa itu benar-benar menjadi alat perjuangan rakyat, atau hanya bahasa kaum terdidik? Ia akan menegaskan bahwa bahasa persatuan tak berarti apa-apa jika tak digunakan untuk menyuarakan ketidakadilan dan penderitaan rakyat. Bahasa, bagi Tan, bukan sekadar alat komunikasi, melainkan senjata untuk mengubah dunia.

Dari Romantisisme ke Revolusi.

Sumpah Pemuda sering kita rayakan dengan penuh nostalgia dan romantisisme. Tapi Tan Malaka akan mengingatkan bahwa nasionalisme yang berhenti di tataran simbol justru berbahaya, karena memberi rasa puas palsu. Ia akan mengajak pemuda untuk keluar dari zona nyaman perayaan, menuju tindakan revolusioner: mengorganisasi rakyat, menuntut keadilan sosial, dan menolak segala bentuk penjajahan baru yang kini datang dalam wajah ekonomi global dan politik oligarki.

Menuntaskan Sumpah Pemuda.

Kini, hampir seabad setelah 1928, barangkali sudah saatnya kita bertanya: apakah Sumpah Pemuda sudah tuntas? Ataukah justru baru dimulai?

Tan Malaka mungkin akan berkata: “Sumpah itu belum selesai.” Selama masih ada rakyat miskin yang tak punya akses pada pendidikan, pekerjaan, dan tanah; selama kesetiaan pada bangsa lebih banyak diucapkan daripada diperjuangkan, maka semangat Sumpah Pemuda masih menunggu untuk ditunaikan.

Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah, tetapi tantangan moral yang terus berulang. Dan lewat kacamata Tan Malaka, kita diingatkan bahwa nasionalisme sejati bukanlah seruan kosong tentang persatuan, melainkan tindakan sadar untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan.

Barangkali, di tengah dunia yang kian terpecah oleh kepentingan ekonomi dan politik, yang kita butuhkan bukan sekadar menghafal Sumpah Pemuda, tetapi menyumpah ulang diri kita sendiri untuk berani melawan ketidakadilan seperti yang dulu diimpikan Tan Malaka.

Mamuju, 28 Oktober 2025.

Adhi Riadi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed