<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Opini Arsip - Hijauhitam.com</title>
	<atom:link href="https://hijauhitam.com/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://hijauhitam.com/category/opini/</link>
	<description>Tajam seperti hitam, tumbuh seperti hijau</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Oct 2025 06:18:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.3</generator>

<image>
	<url>https://hijauhitam.com/wp-content/uploads/2025/10/fix2-logo-hijau-hitam-90x90.png</url>
	<title>Opini Arsip - Hijauhitam.com</title>
	<link>https://hijauhitam.com/category/opini/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sumpah Pemuda yang Belum Selesai: Membaca Ulang Nasionalisme Lewat Kacamata Tan Malaka</title>
		<link>https://hijauhitam.com/sumpah-pemuda-yang-belum-selesai-membaca-ulang-nasionalisme-lewat-kacamata-tan-malaka/</link>
					<comments>https://hijauhitam.com/sumpah-pemuda-yang-belum-selesai-membaca-ulang-nasionalisme-lewat-kacamata-tan-malaka/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Adhy Riadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 06:18:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://hijauhitam.com/?p=159</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hijauhitam.com &#8211; Opini &#8211; SETIAP 28 Oktober, kita kembali mendengar gema Sumpah <a class="read-more" href="https://hijauhitam.com/sumpah-pemuda-yang-belum-selesai-membaca-ulang-nasionalisme-lewat-kacamata-tan-malaka/" title="Sumpah Pemuda yang Belum Selesai: Membaca Ulang Nasionalisme Lewat Kacamata Tan Malaka" itemprop="url"></a></p>
<p>Artikel <a href="https://hijauhitam.com/sumpah-pemuda-yang-belum-selesai-membaca-ulang-nasionalisme-lewat-kacamata-tan-malaka/">Sumpah Pemuda yang Belum Selesai: Membaca Ulang Nasionalisme Lewat Kacamata Tan Malaka</a> pertama kali tampil pada <a href="https://hijauhitam.com">Hijauhitam.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hijauhitam.com &#8211; Opini &#8211;</strong> SETIAP 28 Oktober, kita kembali mendengar gema Sumpah Pemuda, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Pidato demi pidato bergema, bendera dikibarkan, dan nasionalisme kembali dirayakan. Namun di tengah gegap gempita itu, adakah ruang untuk bertanya apakah semangat Sumpah Pemuda masih hidup dalam kenyataan sosial kita hari ini? Atau jangan-jangan ia telah menjelma jadi sekadar seremoni tahunan yang kehilangan daya gigitnya?</p>
<p>Jika Tan Malaka masih hidup hari ini, mungkin ia akan mengernyitkan dahi. Bagi tokoh revolusioner yang menulis Madilog dan Menuju Republik Indonesia itu, nasionalisme bukan soal simbol, bahasa, atau upacara, melainkan soal pembebasan manusia dari penindasan.</p>
<p>Nasionalisme sejati, bagi Tan, adalah kesadaran kelas, kesadaran bahwa bangsa tidak bisa merdeka bila rakyatnya masih lapar, terpinggirkan, dan terbelenggu dalam sistem ekonomi yang timpang.</p>
<p><b><i>Sumpah yang lahir dari elite, bukan dari rakyat.</i></b></p>
<p>Sumpah Pemuda 1928 tentu monumental. Ia menandai momen lahirnya identitas “Indonesia” yang melampaui batas etnis dan daerah. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang Tan Malaka, semangat itu masih berhenti di tingkat nasionalisme elitis, lahir dari kalangan terdidik kota, jauh dari denyut nadi rakyat jelata.</p>
<p>Bagi Tan, kebangsaan tanpa basis ekonomi rakyat hanyalah “bangunan di atas pasir”. Ia pernah menulis bahwa kemerdekaan sejati tak bisa dicapai lewat seruan moral atau pidato indah, tetapi lewat perjuangan massa yang sadar akan nasib dan haknya. Maka, jika Tan Malaka menulis “otokritik” terhadap Sumpah Pemuda, ia mungkin berkata: “Kalian bersumpah satu bangsa, tetapi bangsa siapa yang kalian maksud? Apakah buruh dan tani ikut bersuara di sana?”</p>
<p><em><strong>Bahasa Persatuan, Tapi untuk Siapa?</strong></em></p>
<p>Bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan langkah yang cerdas dan visioner. Namun Tan Malaka mungkin bertanya lebih jauh: apakah bahasa itu benar-benar menjadi alat perjuangan rakyat, atau hanya bahasa kaum terdidik? Ia akan menegaskan bahwa bahasa persatuan tak berarti apa-apa jika tak digunakan untuk menyuarakan ketidakadilan dan penderitaan rakyat. Bahasa, bagi Tan, bukan sekadar alat komunikasi, melainkan senjata untuk mengubah dunia.</p>
<p><em><strong>Dari Romantisisme ke Revolusi.</strong></em></p>
<p>Sumpah Pemuda sering kita rayakan dengan penuh nostalgia dan romantisisme. Tapi Tan Malaka akan mengingatkan bahwa nasionalisme yang berhenti di tataran simbol justru berbahaya, karena memberi rasa puas palsu. Ia akan mengajak pemuda untuk keluar dari zona nyaman perayaan, menuju tindakan revolusioner: mengorganisasi rakyat, menuntut keadilan sosial, dan menolak segala bentuk penjajahan baru yang kini datang dalam wajah ekonomi global dan politik oligarki.</p>
<p><em><strong>Menuntaskan Sumpah Pemuda.</strong></em></p>
<p>Kini, hampir seabad setelah 1928, barangkali sudah saatnya kita bertanya: apakah Sumpah Pemuda sudah tuntas? Ataukah justru baru dimulai?</p>
<p>Tan Malaka mungkin akan berkata: “Sumpah itu belum selesai.” Selama masih ada rakyat miskin yang tak punya akses pada pendidikan, pekerjaan, dan tanah; selama kesetiaan pada bangsa lebih banyak diucapkan daripada diperjuangkan, maka semangat Sumpah Pemuda masih menunggu untuk ditunaikan.</p>
<p>Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah, tetapi tantangan moral yang terus berulang. Dan lewat kacamata Tan Malaka, kita diingatkan bahwa nasionalisme sejati bukanlah seruan kosong tentang persatuan, melainkan tindakan sadar untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan.</p>
<p>Barangkali, di tengah dunia yang kian terpecah oleh kepentingan ekonomi dan politik, yang kita butuhkan bukan sekadar menghafal Sumpah Pemuda, tetapi menyumpah ulang diri kita sendiri untuk berani melawan ketidakadilan seperti yang dulu diimpikan Tan Malaka.</p>
<p><strong>Mamuju, 28 Oktober 2025.</strong></p>
<p><strong>Adhi Riadi.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://hijauhitam.com/sumpah-pemuda-yang-belum-selesai-membaca-ulang-nasionalisme-lewat-kacamata-tan-malaka/">Sumpah Pemuda yang Belum Selesai: Membaca Ulang Nasionalisme Lewat Kacamata Tan Malaka</a> pertama kali tampil pada <a href="https://hijauhitam.com">Hijauhitam.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://hijauhitam.com/sumpah-pemuda-yang-belum-selesai-membaca-ulang-nasionalisme-lewat-kacamata-tan-malaka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sossor Manurung: Jejak Sakral Maradika Mamuju Menyucikan Pusaka Leluhur</title>
		<link>https://hijauhitam.com/sossor-manurung-jejak-sakral-maradika-mamuju-menyucikan-pusaka-leluhur/</link>
					<comments>https://hijauhitam.com/sossor-manurung-jejak-sakral-maradika-mamuju-menyucikan-pusaka-leluhur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Adhy Riadi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2025 13:10:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://hijauhitam.com/?p=132</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hijauhitam.com &#8211; OPINI &#8211; Sabtu pagi, 25 Oktober 2025, langit Mamuju tampak <a class="read-more" href="https://hijauhitam.com/sossor-manurung-jejak-sakral-maradika-mamuju-menyucikan-pusaka-leluhur/" title="Sossor Manurung: Jejak Sakral Maradika Mamuju Menyucikan Pusaka Leluhur" itemprop="url"></a></p>
<p>Artikel <a href="https://hijauhitam.com/sossor-manurung-jejak-sakral-maradika-mamuju-menyucikan-pusaka-leluhur/">Sossor Manurung: Jejak Sakral Maradika Mamuju Menyucikan Pusaka Leluhur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://hijauhitam.com">Hijauhitam.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hijauhitam.com &#8211; OPINI &#8211;</strong> Sabtu pagi, 25 Oktober 2025, langit Mamuju tampak teduh seolah ikut menyambut perhelatan sakral yang hanya digelar sekali setahun.</p>
<p>Di Sapo Kayyang, rumah adat kebanggaan masyarakat Mamuju, aroma dupa dan irama tabuhan gendang mengiringi langkah para Galaqgar Pitu pemangku adat menuju pusat ritual Sossor Manurung, upacara penyucian keris pusaka kerajaan Mamuju.</p>
<p>Ritual ini bukan sekadar pencucian benda pusaka. Di balik kilau air dan keris bersejarah itu, tersimpan makna mendalam tentang hubungan manusia dengan leluhurnya, tentang keberlanjutan dan keberkahan hidup. Manurung, yang juga dikenal dengan gelar Maradika Tammakana-Kana (raja yang tak bertutur), merupakan simbol kesucian, kerendahan hati, dan kebijaksanaan seorang pemimpin.</p>
<p>Dalam upacara ini, Maradika Mamuju hadir lengkap bersama tujuh pemangku adat Galaqgar Pitu, masing-masing dengan peran penting dalam menjaga keutuhan adat dan nilai-nilai kerajaan. Gerak mereka terukur, hening mereka bermakna. Di hadapan pusaka kerajaan, doa dan mantra dipanjatkan, memohon keberkahan untuk rakyat Mamuju.</p>
<p>Menariknya, setiap ritual Sossor Manurung selalu dihadiri oleh perwakilan Kerajaan Badung dari Bali. Kehadiran mereka menjadi simbol persaudaraan sejarah antara dua kerajaan yang dahulu terhubung dalam jaringan diplomasi dan budaya serta kekerabatan. Sebuah pertemuan lintas waktu yang menegaskan bahwa warisan leluhur masih hidup dalam denyut kehidupan modern.</p>
<p>Usai ritual inti, suasana berubah menjadi lebih meriah. Tari-tarian tradisional ditampilkan, menggambarkan kegembiraan dan rasa syukur masyarakat. Di akhir acara, air cucian keris pusaka dibagikan. Air ini diyakini membawa berkah bagi petani dan nelayan, mengakhiri masa paceklik, serta membuka pintu rezeki bagi masyarakat Mamuju.</p>
<p>Di tengah dunia yang terus berubah, Sossor Manurung menjadi pengingat bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan sumber identitas dan kekuatan masa depan. Di setiap tetes air suci yang mengalir dari pusaka kerajaan itu, tersimpan doa agar Mamuju senantiasa makmur di bawah lindungan leluhur.</p>
<p><strong>Mamuju,25 Oktober 2025.</strong></p>
<p><strong>Adhi Riadi.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://hijauhitam.com/sossor-manurung-jejak-sakral-maradika-mamuju-menyucikan-pusaka-leluhur/">Sossor Manurung: Jejak Sakral Maradika Mamuju Menyucikan Pusaka Leluhur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://hijauhitam.com">Hijauhitam.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://hijauhitam.com/sossor-manurung-jejak-sakral-maradika-mamuju-menyucikan-pusaka-leluhur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
